Home Blog E-Sabak Sebagai Pengganti Buku Sekolah

E-Sabak Sebagai Pengganti Buku Sekolah

by punggawa

E-Sabak Sebagai Pengganti Buku Sekolah

 e Sablak

Belum usai pro-kontra tentang Kurtilas dan kembalinya kurikulum sekolah ke KTSP 2006, kemendikbud mengumumkan program e-sabak atau buku elektronik berupa perangkat tablet. Jadi nantinya, buku pelajaran dan buku teks sekolah akan diberikan secara elektronik menggunakan perangkat tablet tertentu yang disediakan pemerintah. Cara ini di klaim Anis Baswaden, menteri Pendidikan dan Kebudayaan, lebih murah dan mampu menekan biaya. Dan yang terpenting adalah sebagai solusi untuk kesamaan kualitas antara pelajar di kota dan di daerah 3T (terdepan, terluar dan terpencil). Materi yang disiapkan secara digital akan lebih diakses tanpa terkendala akses dan medan menuju daerah 3T tersebut. Benarkah demikian?

e-sabak adalah perangkat tablet yang berisi e-book dan aplikasi belajar interaktif yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. E-sabak atau sabak elektronik ini adalah salah satu upaya pemerintah dalam pemanfaatan Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK)Ini adalah solusi untuk peserta didik di wilayah 3T untuk mendapatkan pengetahuan dan informasi yang sama dengan peserta didik di kota besar. Untuk tahap pertama, tablet ini baru bisa menjadi buku elektronik, jadi belum tersambung ke internet. Materi yang ada di tablet masih dikirim atau ditransfer. Untuk proyek ambisius ini, pihak mendikbud menggandeng Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) dan PT Telkom untuk memberikan layanan pendidikan ini.

Fokus utama penerapan e-sabak nantinya adalah du daerah 3T yang selalu terkendala pendistribusian buku dan teks ujiannya. Perbatasan seperti Kalimantan, Papua dan Nusa Tenggara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga akan diprioritaskan dan dijadikan proyek percobaan e-sabak. Untuk mempersiapkan e-sabak ini, pemerintah sedang bergiat membangun fasilitas infrastruktir ICT dan infrastruktur transportasi di daerah-daerah percontohan yang belum memadai

Respon masyarakat untuk program e-sabak ini beragam. Ada pro kontra, termasuk ke khawatiran akan penyelewengan. Apalagi daerah yang dijadikan percontohan adalah daerah 3T yang sebagian besar masih terkendala listrik, akses jalan menuju ke sana, dan internet. Bahkan jika diamati secara langsung, daerah percontohan juga boleh jadi belum memiliki gedung sekolah yang layak. Demikian beberapa pendapat masyarakat yang kontra.

Untuk menjawab kekhawatiran masyarakat akan program e-sabak ini, Mendikbud Anis Baswaden menyatakan bahwa pihaknya menyadari tantangan yang mungkin dihadapi. Ia menuturkan, dalam menggunakan buku elektronik tersebut tidak hanya siswa yang harus belajar. Guru pun harus dilatih. Bahkan di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T), fasilitas listrik adalah salah satu tantangan utama.

Untuk mendukung langkah ini, Mendikbud mengatakan, pemerintah sedang bekerja keras membangun fasilitas, baik infrastruktur ICT, maupun infrastruktur transportasi di daerah-daerah yang tidak terjangkau. “Meskipun sekarang listriknya belum memadai, kita masih banyak cara untuk generating electricity itu. Kita percaya ke depan pasti akan punya fasilitas elektronik yang baik,” katanya.

 

 

http://www.eduqo.com/2012/05/sabak-tablet-pintar-untuk-pelajar.html

http://berita.upi.edu/blog/2015/01/11/pemerintah-gulirkan-e-sabak-gantikan-buku-sekolah/

You may also like

Leave a Comment